Skip to content

Pemanfaatan Tyto Alba untuk Pengendalian Hama Tikus di Karang Agung Ilir, Sumatra Selatan

Bagikan artikel ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Permasalahan Hama Tikus di Kecamatan Karang Agung Ilir

Petani di Kecamatan Karang Agung Ilir mempunyai persoalan yang cukup pelik terkait dengan serangan hama tikus pada tanaman padi mereka. Hama tikus sawah (Rattus argentiventer) dirasakan sangat mengganggu keberhasilan budidaya padi dan membuat produktivitas lahan mereka menurun.  Berdasarkan publikasi yang dikeluarkan Direktorat Bina Perlindungan Tanamanpada tahun 2012, pada saat padi dalam fase vegetatif, seekor tikus mempunyai kemampuan untuk merusak antara 11-176 batang padi per malam. Sedangkan pada fase generatif (bunting hingga panen) semakin meningkat menjadi 24-246 batang per malam. Pada tingkat kerusakan yang berat, biasanya hanya tersisa beberapa baris tanaman terutama pada bagian tepi.  Demikian juga yang terjadi di area persawahan di Kecamatan Karang Agung Ilir, serangan hama tikus pada tanaman padi dimulai sejak fase awal budidaya atau Musim Tanam I (MT I) dan akan meningkat serangannya pada periode atau Musim Tanam II (MT II).

Karena sangat merugikan, berbagai upaya telah ditempuh masyarakat seperti memagari sawah dengan fiber atau plastik mulsa bahkan ada yang menempuh cara yang berbahaya, yaitu dengan  memagari kawat yang dialiri listrik. Selain berbagai upaya yang ditempuh masyarakat tersebut pihak pemerintah daerah juga mempunyai perhatian melalui petugas pengendali Organisme Pengganggu Tanamn (OPT) di lapangan. Upaya yang ditempuh Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuasin dalam hal ini adalah berupa program perburuan tikus serempak (gropyokan) dan juga pengendalian melalui pemberian racun ke dalam lubang dan sarang tikus (pengemposan). Namun hingga tahun 2019  yang lau berbagai upaya yang telah dicoba masyarakat dan pemerintah daerah di atas dirasa belum memberikan dampak yang memadai, dan juga relatif membutuhkan biaya yang tinggi untuk pembelian plastik atau fiber. 

Karakteristik Wilayah Kecamatan Karang Agung Ilir

Karang Agung Ilir merupakan Kecamatan baru hasil pemekaran dari Kecamatan Banyuasin II. Pemekaran wilayah terjadi pada tahun 2018 dan mempunyai 7 wilayah desa/kelurahan yaitu Sumber Rejeki,  Sri Agung, Karangsari, Majuria, Tabala Jaya, Jati Sari, Mekar Sari. Wilayahnya merupakan dataran rendah dengan ketinggian rata-rata dibawah 10 mdpl dan merupakan kawasan pasang-surut karena berada di muara Sungai Musi. Di sisi timur dan selatan,  wilayahnya berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Sembilang yang merupakan kawasan konservasi dengan spesies utama yang dilindungi adalah Harimau Sumatera (Panthera tigris Sumatrae) dan Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus). Dengan demikian wilayah kecamatan ini dapat dikatakan sebagai penyangga (buffer zone) Taman Nasional Sembilang. Karena kedekatannya dengan kawasan hutan Taman Nasional ini maka areal persawahan sering mengalami gangguan juga dari babi hutan (Sus sp.). Secara umum area budidaya pertanian yang berdekatan dengan kawasan hutan menghadapi permasalahan ini di Sumatera Selatan.

Wilayah Karang Agung Ilir (warna kuning)

Wilayah Kecamatan ini merupakan kawasan transmigrasi yang dikembangkan  sejak tahun 1980-an. Sebagai area transmigrasi maka sejak awal telah dipersiapkan sebagai lahan budidaya padi secara intensif yang didukung oleh jaringan irigasi pasang-surut. Dari sekitar 310.000 ha luas wilayahnya sekitar 70% merupakan lahan persawahan. Lahan persawahan ini berkurang karena sebagian telah diubah menjadi kebun kelapa yang merupakan salah satu komoditi utama selain padi. Dengan area persawahan yang luas tersebut Kecamatan Karang Agung Iir merupakan salah satu lumbung padi bagi Kabupaten Banyuasin.

Karakteristik Pemukiman di Kecamatan Karang Agung Ilir

Pengendalian Hama Tikus Dengan Tyto alba

Yayasan Penabulu bersama Tim dari RELUNG Indonesia mencoba untuk mengatasi persoalan hama tikus sawah di Kecamatan Karang Agung Ilir ini dengan memanfaatkan Tyto alba (burung hantu/serak jawa) sebagai predator alami tikus sawah. Program ini dilakukan dengan metode modifikasi habitat untuk menghadirkan Tyto alba di area persawahan. Kegiatan pengendalian hama tikus sawah ini dilakukan di Desa Sumber Rejeki dan Tabala Jaya.

Serak Jawa aktif pada malam hari (nocturnal), tidak bersifat migratory, dapat dikembangkan di areal persawahan, dapat bersarang pada sarang buatan (Nestbox) atau rumah burung hantu (Rubuha) dan umumnya sebagai binatang penetap dengan home range 1,6 – 5,6 km di sekitar sarang. Burung hantu jenis ini mampu mendeteksi mangsa dari jarak jauh, mampu terbang cepat, mempunyai kemampuan untuk menyergap dengan cepat tanpa suara, memiliki pendengaran sangat tajam dan mampu mendengar suara tikus dari jarak 500 meter. Pada umumnya seekor Serak Jawa dewasa mampu memakan tikus 2-5 ekor setiap malam, namun kemampuan memburu dan membunuh tikus dapat lebih banyak melebihi kebutuhan makannya. Pemanfaatan burung hantu adalah cara pengendalian tikus yang ramah lingkungan karena dengan cara ini petani tidak membutuhkan input kimia sintetis yang berupa racun tikus. Penggunaan racun pembunuh tikus (rodentisida) justru kontradiktif dengan metode ini karena akan beresiko bagi Si Burung Hantu itu sendiri jika memakan tikus yang sedang mengkonsumsi racun.

Berdasarkan beberapa catatan pengalaman pengembangan metode ini mempunyai beberapa kekurangan, yaitu:

  • Masyarakat kurang memahami karakteristik ekologi burung hantu
  • Tidak cepat memberikan dampak langsung di jangka pendek, sehingga dibutuhkan waktu panjang untuk melihal dampak dan manfaatnya
  • Mahal karena harus membangun instalasi sarang atau rumah burung hantu (RUBUHA) ataupun tenggeran. Bahkan untuk daerah yang tidak mempunyai populasi burung hantu maka harus didatangkan burung hantu yang tidak murah harganya.

Oleh karena itu beberapa langkah telah ditempuh  dalam menjalankan dan mengembangkan metode ini. Tahapan-tahapan yang ditempuh adalah sebagai berikut:

  1. Sosialisasi tentang Konsep Burung Hantu sebagai pengendali hama tikus kepada pemerintah desa dan masyarakat, khususnya para petani
  2. Observasi lapangan secara partisipatif untuk dapat memahami keberadaan dan sifat alami dari burung hantu itu sendiri bersama masyarakat
  3. Membangun demplot
  4. Monitoring terhadap fungsi dan manfaat instalasi yang telah dibangun

Sosialisasi dilakukan bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan  secara formal maupun informal kepada masyarakat, petani dan juga pemerintahan desa dan pemerintah daerah khususnya dari Bappeda dan Dinas Pertanian Kabupaten Banyuasin.

Sosialisasi Kepada Masyarakat dan Kelompok Tani

Observasi

Paska sosialisasi dilanjutkan dengan kegiatan observasi lapangan bersama-sama dengan masyarakat, penyuluh dan juga babinsa. Observasi ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang keberadaan dan perilaku burung hantu di lapangan. Mengetahui kondisi ekosistem perdesaan dan daya dukungnya terhadap Tyto alba dan mengetahui potensi ancaman terhadap burung hantu seperti perburuan, penyebab kematian, dll.  Selain itu juga penting untuk mengetahui jalur atau lintasan terbang Burung Hantu untuk memperkirakan lokasi yang cocok untuk pengembangan demplot

Observasi Lapangan di Pagi dan Malam Hari
Penemuan hasil observasi awal: Tyto alba terkena sengatan aliran listrik, temuan sarang burung hantu di atap rumah

Membangun demplot

Pengendalian hama tikus dengan menggunakan Tyto alba dilakukan diawali pada skala demplot. 1 unit demplot merupakan area persawahan seluas 25 ha. Di dalam area ini didirikan 5 buah sarang buatan (nest box) dan 60 tenggeren. Nest box diharapkan dapat dihuni oleh burung hantu nantinya sedangkan tenggeran dapat menjadi sarana bagi Burung Hantu untuk mengintai mangsa. Nest box dan tenggeren dibuat dan didirikan bersama-sama dengan masyarakat, dengan harapan ke depan mereka dapat mengembangkan instalasi ini secara mandiri. Pemasangan instalasi ini dilakukan mulai  tanggal 30-31 Oktober 2019.

Tiang pancang nest box terbuat dari pipa PVC yang diisi adonan cor setinggi kurang lebih 6 meter. Sedangkan tenggeren terbuat dari tiang kayu atau bambu dengan ketinggian 3-4 meter. Nest box terbuat dari papan yang yang cukup tebal dan dikasih atap yang tahan air, baik terbuat dari fiber atau papan yang dilapisi dengan karpet talang air.  Sebaiknya nest box dilapisi cat yang dapat mengurangi laju pelapukan bahan.

Proses Pembuatan Nest Box
Pemasangan Nest Box dan Tenggeran di Areal Persawahan

Monitoring Terhadap Fungsi dan Manfaat Demplot

Setelah pemasangan instalasi Rubuha dan tenggeran, proses selanjutnya adalah mengamati (monitoring) fungsi dari kedua alat tersebut. Adapun tujuan monitoring program pemanfaatan Burung Hantu Tyto Alba sebagai pengendali tikus adalah:

  1. Memastikan perkembangan aktivitas burung hantu di sekitar demplot Tyto Alba yang terpasang berdasarkan hasil monitoring dan catatan kelompok tani.
  2. Mendiskusikan temuan-temuan yang ada di lapangan, tantangan dan kendala yang dihadapi serta metode-metode yang digunakan dilapangan oleh kelompok tani untuk memonitoring Tyto Alba.
  3. Melihat respon masyarakat terhadap program yang diimplementasikan.

Monitoring secara rutin dilakukan secara mandiri oleh anggota kelompok tani. Anggota kelompok tani sangat berkepentingan untuk melihat efek pemasangan Rubuha dan tenggeran terhadap keberadaan burung hantu dan tikus di area persawahan  mereka.

Dari monitoring yang dilakukan, sejak 1 bulan setelah pemasangan Rubuha dan tenggeran telah nampak aktivitas burung hantu di Rubuha maupun tenggeran. Hal ini membuat para petani menjadi yakin terhadap efektifitas metode ini. Waktu-waktu selanjutnya semakin banyak Rubuha yang dihuni oleh burung hantu dan bahkan telah digunakan untuk bertelur.

Project memberikan fasilitas 5 Rubuha dan 60 tenggeran di Desa Sumber Rejeki dan Desa Tabala Jaya. Namun dari pemantaun yang ada terdapat penambahan Rubuha dan tenggeran yang dipasang oleh masyarakat di dua desa terebut. Sekitar 3 bulan dari pengembangan ini beberapa petani di desa lainnya seperti Desa Sri Agung, Mekar Sari, Jati Sari, dan Karangsari. Artinya dari 7 desa yang ada di Kecamatan Karang Agung Ilir terdapat 6 Desa yang mengikuti langkah ini. Berdasarkan pendataan yang dilakukan pada bulan ke-6 perkembanga Rubuha dan tenggeran Tyto alba di Kecamatan Karang Agung Ilir menjadi sekitar 40 unit dari awalnya yang hanya 3 unit.

Evaluasi Dan Pembelajaran

Selain memonitor fungsi dan pengembangan Rubuha dan tenggeran, pada bulan januari (3 bulan setelah pemasangan instalasi) juga dilakukan evaluasi bersama petani. Catatan kritis dari para petani adalah sebagai berikut:

  • Banyak petani yang mengikuti langkah-langkah yang ditempuh oleh kelompok tani yang didampingi oleh project. Hal ini didasarkan pada fenomena kedatangan burung hantu di sekitar Rubuha dan tenggeran;
  • Terjadi perubahan pola terbang Tyto Alba setelah adanya penanaman di sawah dan curah hujan yang meningkat. Beberapa hal yang ditakutkan petani perubahan pola terbang ini dikarenakan banyaknya tenggeran yang telah terpasang di desa-desa lain, sehingga merubah pola terbang dan keberadaan Tyto Alba di lokasi sebelumnya;
  • Penggunaan racun tikus masih ada di anggota kelompok tani lain dalam satu petak, sehingga ini cukup menjadi ancaman bagi Tyto Alba dan hewan lain pemakan tikus;
  • Pernah terdapat Tyto Alba yang mati dikarenakan tikus, namun masih belum diketahui pasti penyebabnya;
  • Ancaman lainnya untuk Tyto Alba yaitu pembongkaran bangunan yang menjadi lokasi sarang bagi Tyto Alba, dan masih adanya keyakinan bahwa burung hantu merupakan pengganggu bagi wallet yang dibudidayakan warga khususnya di desa-desa lain di luar desa intervensi (Sumber Rejeki dan Tabala Jaya);
  • Beberapa hal terkait pengetahuan mengenai Tyto Alba yang masih ingin diketahui petani pegiat rubuha Tyto Alba seperti: perkembangbiakan, home range dan populasi dan informasi lain untuk dapat memahami krakateristik Tyto Alba agar hasil yang diharapkan menjadi maksimal.

Oleh: Akhmad Arief Fahmi