Skip to content

Lanskap

Lanskap Dataran Tinggi Semendo

Mensinergikan Tata Kelola Desa dan Tata Kelola Hutan di Tingkat Tapak

Sebagai bentuk dukungan terhadap berbagai kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa seperti telah diuraikan diatas, Yayasan Resiliensi Lingkungan Indonesia Bekerjasama dengan dukungan dari Yayasan Penabulu berupaya untuk membangun sinergi antar pihak di tingkat tapak. Hal ini dilakukan dengan membuat langkah-langkah konkret bersama-sama pemerintah desa dan pengelola kawasan hutan. Hingga saat ini antara pemerintah desa dan juga pengelola kawasan hutan (KPH) masih nampak berjalan sendiri-sendiri.

Read More

Yayasan Penabulu tengah merintis kerjasama atau keterpaduan antara pemerintah desa dan pihak KPH dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang hidup di dalam dan di sekitar kawasan hutan melalui pengembangan ekonomi berbasis potensi sumberdaya hutan yang ada di wilayah desa.

Tujuan utama dari program ini adalah terjadinya sinergi antara tata kelola hutan dan tata kelola desa dalam meningkatkan perekonomian masyarakat desa hutan. Selain sinergi di tingkat tapak antara pihak pemerintah desa, KPH, KTH Perhutsos dan juga BUMDes, program ini juga akan memperkuat koordinasi parapihak terkait di tingkat kabupaten. Selain itu penguatan jejaring pasar juga akan menjadi fokus dari program ini. Tanpa dukungan pasar yang memadai maka pengembangan ekonomi desa berbasis sumberdaya hutan tidak dapat berkembang secara optimal. Oleh karena itu program ini juga akan menjalin dan mengajak kerjasama para pelaku pasar dari komoditi atau produk-produk yang dihasilkan oleh desa hutan.

Lanskap Sungsang Sembilang

Mewujudkan Perkampungan Sunsang sebagai Kampung Nelayan yang Berkelanjutan

Perkampungan yang terdiri dari 5 desa ini menurut data resmi tahun 2018 dihuni oleh kurang lebih 23.758 jiwa penduduk atau kurang lebih sekitar 5000 Kepala Keluarga ini merupakan perkampungan yang sangat padat di kawasan pasang surut muara Sungai Musi dan pesisir Selat Bangka, dan merupakan zona penyangga dari Kawasan Taman Nasional Sembilang. Perkampungan ini tidak dilengkapi dengan sistem pembuangan sampah sehingga masyarakat membuang sampah begitu saja di area pemukiman atau pantai dan tepian laut. Lambat laun sampah plastik terlihat menumpuk di setiap pojok, lorong dan sudut pemukiman dan menciptakan pemandangan yang kumuh dan kotor.

Read More

Pemerintah Kabupaten, Kecamatan dan juga pemerintah desa hingga program ini dijalankan belum menemukan solusi tentang masalah persampahan ini. Beberapa permasalahan yang dihadapi adalah tidak adanya alokasi lahan untuk pembuangan akhir atau pembuangan sementara dan juga kemauan penduduk untuk mengeluarkan atau membayar biaya pengolahan sampah. Pemerintah juga terlihat masih enggan membangung infrastruktur pengelolaan sampah karena belum ada sistem pengelolaan yang tepat.  Diperlukan pendekatan dan strategi yang tepat dan mudah diterima masyarakat untuk mengatasi persoalan “Pemukiman Kumuh” di kawasan ini.

Tim dari RELUNG Indonesia yang bekerjasama dengan Yayasan Penabulu-KELOLA Sendang mencoba menggagas strategi dan pendekatan untuk mewujudkan lingkungan pemukiman pesisir yang sehat dan ramah lingkungan di kawasan ini. Perjalanan program kurang lebih 3 tahun telah membawa beberapa angin perubahan seperti kesadaran membuang sampah pada tempatnya, penyediaan fasilitas pembuangann sampah oleh pemerintah desa dan kecamatan, di tetapkannya areal-areal percontohan bebas sampah, berkembangnya Gerakan Jumat Bersih di kalangan Pelajar dan pemerintahan, dan diterbitkannya Peraturan Desa tentang Pengelolaan Sampah di 5 Desa di Perkampungan Sungsang  ini.

Lanskap Gambut Bayung Lencir

Pengelolaan Ekosistem Gambut Kolaboratif-Berkelanjutan

Muara medak adalah sebuah desa di Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan. Desa ini yang mempunyai karakter khas dimana wilayahnya merupakan ekosistem gambut yang cukup luas. Desa ini terbagi dalam 10 dusun dan hampir semua dusun mempunyai area-area gambut terutama di dusun 4,5,7, 9 dan 10. Sebagai sebuah desa, muara medak mempunyai wilayah yang sangat luas, yaitu sekitar 75.000 ha. Meskipun sangat luas namun wilayahnya sebagian besar merupakan kawasan hutan negara dan juga konsesi perkebunan.

Read More

Banyak perusahaan di bidang Hutan Tanaman Industri dan Perkebunan Kelapa Sawit yang menjalankan usahanya di wiayah ini. Di masa lalu (era 1990-2010 an), dimana hutan gambut masih dalam kondisi yang cukup bagus di wilayah ini beroperasi perusahaan-perusaan HPH Hutan Alam yang memproduksi kayu bulat dari hutan-hutan gambut yang ada di wilayah ini. Hutan-hutan gambut itu saat ini mengalami deforestasi yang sangat hebat sehingga menyisakan lahan gambut tanpa pohon-pohonan sama sekali. Gambut yang gundul tanpa pepohonan ini sangat rawan terhadap bahaya kebakaran lahan sehingga pada tahun 2015 dan tahun 2019 terjadi kebakaran lahan hebat di kawasan ini.

Sejak tahun 2018 di desa ini pemerintah menerbitkan ijin Perhutanan Sosial kepada masyarakat, sekitar 4.000 ha kawasan hutan menjadi area ijin Perhutanan Sosial yang diberikan kepada 15 Kelompok Tani. Sebagian besar ijin Perhutanan Sosial ini terdapat di area lahan gambut baik yang dangkal maupun dalam. Ijin Perhutanan Sosial pada areal gambut yang telah terdegradasi ini menarik untuk kita perhatikan bersama-sama, karena pengelolaa lahan gambut sendiri sangat rentan terhadap berbagai resiko lingkungan, sementara pemberian ijin Perhutanan Sosial tentunya bertujuan untuk meningkatkan kondisi perekonmian masyarakat. Dalam hal ini Yayasan Penabulu bekerjasama,Yayasan Resiliensi Lingkungan Indonesia, dan CTSS IPB University yang tergabung dalam Aliansi FOREST4DEV  tengah mengembangkan inisiatif untuk mewujudkan pengelolaan potensi ekonomi berbasis ekosistem lahan gambut ini secara berkelanjutan bersama-sama dengan parapihak terkait.

Lanskap Hutan Meranti

Merehabilitasi lanskap Dangku-Meranti secara Inklusif

Lanskap Dangku-Meranti merupakan salah satu ekosistem  hutan yang masih tersisa di Sumatera Selatan. Sebaran kawasan berhutan di area model ini dan sekitarnya sekaligus menunjukkan fragmentasi habitat dan keterancaman populasi mamalia besar seperti harimau sumatera, gajah sumatera, beruang madu dan tapir. Pada bgian utara Area Model ini merupakan kawasan restorasi PT REKI. Kawasan restorasi ekosistem PT REKI dan kawasan konservasi Swaka Margasatwa  Dangku sama‐sama menghadapi masalah pembalakan liar, perambahan kawasan, konflik pengelolaan kawasan dan juga konflik manusia dengan satwa liar.

Read More

Keberadaan KPHP Meranti, yang sebagian besar didominasi oleh kawasan hutan produksi, di antara kedua kawasan tersebut memberikan peluang dan tantangan tersendiri dalam mendorong pihak swasta pemegang ijin konsesi untuk dapat berperan dan terlibat aktif dalam pengembangan koridor konservasi satwa, pelestarian kawasan ekosistem esensial dan juga dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar kawasan hutan. Masyarakat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hutan dan pengelolaan hutan pada lanskap ini. Apapun tindakan yang diambil oleh parapihak pada lanskap ini seharusnya diorientasikan untuk meningkatkan kualitas dan martabat kehidupan masyarakat yang masih didera oleh berbagai persoalan sosial seperti konflik lahan,  keterbatasan aksesibilitas, rendahnya tingkat pendidikan, lahan kelola dan pemukiman yang illegal dan juga rendahnya layanan dasar seperti energi, listrik dan juga air bersih.

Lanskap Pesisir Selatan Jawa

Menghijaukan Pesisir Selatan Yogyakarta-Jawa Tengah

Pantai dan sungai yang tercemar dan vegetasi di sekitarnya yang terus berkurang akan merugikan manusia itu sendiri pada akhirnya, karena kualitas lingkungan sungai dan pantai akan sangat menentukan kondisi ekosistem dan kehidupan biota laut. Para aktivis RELUNG Indonesia sejak tahun 2004 mempunyai perhatian dan aksi nyata terhadap kondisi ekosistem perairan ini terutama dalam hal revegetasi pantai dan juga mengembangkan mangrove pada ekosistem estuari di sepanjang pesisir selatan DI Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Read More

Hal ini diwujudkan dalam penanaman mangrove pada kawasan muara-muara sungai seperti Muara Sungai Opak, Muara Sungai Bogowonto, ekosistem bakcswamp antara S. Bogowonto (Kulon Progo) dan S. Jali (Purworejo) sepanjang kurang lebih 12 km. Program ini diawali oleh sebuah riset penanaman Avicennia Sp.  di Muara Sungai Opak. Karena terbukti bagus kemudian pada tahun 2006 hingga 2008 dilakukan penanaman intensif pada lokasi yang lebih luas hingga Jawa Tengah atas dukungan program Toyota Eco-grant. Dalam mengembangkan program ini ini Yayasan RELUNG juga mendorong berbagai pihak seperti organisasi pemuda, instansi pemerintah daerah, pemerintah desa, pihak swasta perguruan tinggi dan komunitas untuk bersama-sama peduli terhadap kelestarian ekosistem pantai. Sehingga paska 2010 banyak sekali pihak yang berpartisipasi dalam program ini.

Lanskap Merapi Merbabu

Bersama-sama Mengembangkan Pertanian Ramah Lahan di Dataran Tinggi Merapi Merbabu

Lahan sempit nan curam, harga komoditi yang fluktuatif, ancaman serangan hama dan penyakit, resiko longsor dan erosi setiap musim hujan merupakan tantangan hidup bagi para petani di dataran tinggi seperti di lereng G. Merapi dan G. Merbabu. Komoditi andalan mereka adalah beragam sayuran seperti wortel, kol, daun bawang, brokoli, dll.

Read More

Tanah-tanah miring dan bahkan curam  mereka olah secara intensif setiap musim tanam tiba,. meskipun mereka sadar bahwa akibatnya adalah  tanah pertanian mereja semakin menipis karena erosi secara terus menerus

Lanskap Petungkriyono

Melestarikan Petungkriyono, Melestarikan Hubungan Harmonis Manusia dan Hutan

Paling tidak dalam kurun 10 tahun belakangan Petungkriyono banyak menjadi perbincangan hangat di masyarakat Kabupaten Pekalongan dan Jawa Tengah. Terdapat beberapa isu menarik yang menjadi pusat perhatian masyarakat terkait wilayah Kecamatan yang mempunyai tutupan hutan yang masih hijau, hawa sejuk dan air sungai yang masih mengalir jernih ini. Petungkriyono merupakan wilayah dengan hutan yang masih lebat dan beberapa hewan langka seperti Owa Jawa dan Harimau Kumbang masih ada di dalamnya. Petungkriyono juga dikenal sebagai penghasil kopi yang enak, lantas muncul istilah “KoPet” alias Kopi Petung.

Read More

Dan Dalam perkembangannya Petungkriyono banyak dikunjungi masyarakat, khususya generasi muda yang ingin berwisata, mengunjungi obyek-obyek alam seperti air terjun atau melakukan kegiatan wisata seperti water tubing  yang telah banyak disediakan oleh masyarakat di kawasan ini.  Petungkriyono punya banyak alasan untuk menjadi perhatian kita semua. Sebagai sebuah wilayah yang Petungkriyono mempunyai berbagai potensi yang dapat dikembangkan. menyatakan bahwa petungkriyono paling tidak mempunyai 3 aspek yang menarik untuk kita perhatikan, yaitu: hutan dan keanekargaman hayatinya, peninggalan arkeologis dan juga fenomena bentang alam yang indah. Selama ratusan tahun masyarakat di kawasan ini mampu menjaga dan hidup bersama dengan beragam keanekaragaman hayati yang sebagiannya merupakan jenis-jenis langka, hubungan harmonis inipun merupakan sesuatu yang langka terjadi di Pulau Jawa yang dikenal sebagai pulau dengan kepadatan populasi manusia dan tekaan yang tinggi terhadap hutan dan lingkungan.