Email Address

info@relung.or.id

Phone Number

+62 851-7544-2708

Our Location

Sleman, Yogyakarta 55573

Game Theory: Kenapa Kita Sering “Nunggu Orang Lain Duluan” Saat Bicara Lingkungan

Pojok Pengetahuan

Pernah ada momen gini: kamu mau beli kopi, barista nanya, “Bawa tumbler?” Kamu sebenernya peduli, tapi hari itu kamu nggak bawa. Terus kamu mikir, “Ah, satu cup plastik doang… orang lain juga pakai.”

 

Atau kamu kepikiran naik transportasi umum, tapi lihat teman-teman tetap bawa motor, dan kamu bilang ke diri sendiri, “Nanti aja deh pas sistemnya udah enak.”
Kalau kamu pernah merasa begitu, tenang—itu bukan kamu “nggak peduli”. Itu pola keputusan yang dipelajari dalam Game Theory.

 

Apa itu Game Theory?

Game theory adalah cara memahami keputusan ketika hasilnya bergantung pada pilihan orang lain. Bukan game yang pakai joystick, tapi “permainan strategi” di dunia nyata: kerja kelompok, bisnis, sampai aksi iklim.

 

Intinya sederhana: “Kalau aku melakukan sesuatu, orang lain akan melakukan apa?
Dan kalau mereka begitu, pilihan terbaikku apa?”

 

Kenapa Game Theory relevan untuk perubahan iklim?

Karena perubahan iklim itu masalah “bareng-bareng”: kalau banyak orang bergerak, dampaknya besar. Tapi kalau hanya sedikit yang bergerak, mereka bisa merasa repot sendirian.

 

Di game theory, ini sering muncul sebagai free-rider problem:


Orang yang tetap menikmati manfaat (udara lebih bersih, kota lebih nyaman) tanpa ikut kontribusi (mengurangi emisi/sampah). Akibatnya, banyak orang jadi memilih strategi aman: ikut arus.

 

Tiga cerita sehari-hari: ketika keputusanmu “dipengaruhi orang lain”

1) Kopi & tumbler: “Kalau aku doang, apa gunanya?”

Kalau satu orang bawa tumbler, efeknya kecil. Tapi kalau satu kampus atau satu kota bawa tumbler, itu beda cerita. Masalahnya, kamu nggak yakin orang lain akan ikut. Dan karena nggak yakin, kamu jadi mikir, “Nanti dulu.”

 

Ini bukan soal malas—ini soal rasa “nggak mau jadi satu-satunya yang repot”.

 

2) Transportasi: “Aku pengin, tapi sistemnya belum mendukung”

Kamu tahu naik transportasi umum atau carpool lebih ramah iklim. Tapi kalau:

  • aksesnya jauh,
  • jadwalnya nggak pasti,

 

Orang lain tetap bawa kendaraan pribadi, maka pilihan paling masuk akal untuk hari itu sering jatuh ke kendaraan pribadi juga.

 

Game theory membantu kita lihat: keputusan individu sering ditentukan oleh kondisi kolektif.

 

3) Thrifting: “Takut dinilai”

Thrifting itu hemat, keren, dan mengurangi jejak fast fashion. Tapi sebagian orang ragu karena:

  • takut dikira “nggak mampu”,

takut beda sendiri di circle, padahal kalau norma sosial bergeser sedikit saja—thrifting jadi hal yang wajar—banyak orang bakal ikut tanpa beban.

 

Jadi, solusinya apa? Bukan cuma “ayo sadar”, tapi ubah situasinya

Game theory menunjukkan: kalau kita ingin lebih banyak orang beraksi, kita perlu membuat aksi ramah lingkungan jadi lebih mudah, lebih adil, dan terasa ramai.

Ini beberapa cara yang terbukti kuat secara “logika permainan”:

  1. Bikin aksi jadi menguntungkan (insentif)

Diskon bawa tumbler, poin refill, reward carpool, atau benefit untuk komunitas yang menjaga lingkungan. Bukan “dibayar untuk peduli”, tapi mengurangi rasa rugi sepihak.

  1. Bikin jelas siapa melakukan apa (aturan main)

Di komunitas/organisasi, pembagian peran, SOP, dan target yang jelas bikin orang nggak takut “kerja sendirian”.

  1. Bikin terlihat bahwa banyak yang ikut (efek sosial)

Ketika orang melihat teman-temannya melakukan hal yang sama, keputusan ramah lingkungan terasa normal. “Normal” itu kuat banget.

  1. Karena ini permainan berulang: bangun kebiasaan

Kalau kamu dan circle-mu melakukan aksi kecil berulang, kepercayaan naik, rasa “sendirian” turun, dan kerja sama jadi stabil.

 

Mulai dari yang kecil tapi sosial: 3 aksi yang realistis

Kalau kamu mau coba, ini versi yang nggak berat tapi efektif karena melibatkan orang lain:

  • Ajak 1 teman jadi “tim tumbler” (bawa bareng, saling ingetin, jadi kebiasaan)
  • Carpool/nebeng bergiliran 1–2 kali seminggu (efeknya nyata, dan makin mudah kalau rame)
  • Thrift challenge: 1 item per bulan + share outfit (bukan pamer, tapi bikin norma baru)

 

Karena kadang perubahan iklim bukan cuma soal teknologi atau kebijakan besar.
Kadang, ini soal momen kecil yang bikin orang lain mikir:

“Oh… ternyata banyak juga yang gini. Yaudah, gue ikut.”

Dan di situlah “permainan” mulai berubah.

 

FAQ singkat

  • Game theory itu cuma buat ekonomi?

Nggak. Dipakai untuk semua situasi strategis: organisasi, konflik, kerja sama, sampai aksi iklim.

  • Kenapa orang sulit kompak soal lingkungan?

Karena manfaatnya bareng, tapi biaya/usaha sering terasa ditanggung sendiri. Itu memicu free-rider dan “nunggu orang lain dulu”.

  • Apa kunci supaya aksi iklim jalan?

Bikin kerja sama jadi pilihan paling masuk akal: ada insentif, aturan main, transparansi, dan dukungan sosial.

 

Kontributor:

Meiardhy Mujianto

“Dynamic Harmony between Human and Nature.”

-Relung Indonesia

Tags :
Pojok Pengetahuan
Share This :

Contact Info

Newsletter

Jaga lingkungan bersama Relung Indonesia Foundation! Dapatkan informasi terkini seputar kehutanan dan lingkungan di Indonesia.

Relung Indonesia Foundation

Copyright © 2023. All rights reserved.