Email Address
info@relung.or.id
Phone Number
+62 851-7544-2708
Our Location
Sleman, Yogyakarta 55573
info@relung.or.id
+62 851-7544-2708
Sleman, Yogyakarta 55573
admin
Maret 10, 2026

Pernah ada momen gini: kamu mau beli kopi, barista nanya, “Bawa tumbler?” Kamu sebenernya peduli, tapi hari itu kamu nggak bawa. Terus kamu mikir, “Ah, satu cup plastik doang… orang lain juga pakai.”
Atau kamu kepikiran naik transportasi umum, tapi lihat teman-teman tetap bawa motor, dan kamu bilang ke diri sendiri, “Nanti aja deh pas sistemnya udah enak.”
Kalau kamu pernah merasa begitu, tenang—itu bukan kamu “nggak peduli”. Itu pola keputusan yang dipelajari dalam Game Theory.
Game theory adalah cara memahami keputusan ketika hasilnya bergantung pada pilihan orang lain. Bukan game yang pakai joystick, tapi “permainan strategi” di dunia nyata: kerja kelompok, bisnis, sampai aksi iklim.
Intinya sederhana: “Kalau aku melakukan sesuatu, orang lain akan melakukan apa?
Dan kalau mereka begitu, pilihan terbaikku apa?”
Karena perubahan iklim itu masalah “bareng-bareng”: kalau banyak orang bergerak, dampaknya besar. Tapi kalau hanya sedikit yang bergerak, mereka bisa merasa repot sendirian.
Di game theory, ini sering muncul sebagai free-rider problem:
Orang yang tetap menikmati manfaat (udara lebih bersih, kota lebih nyaman) tanpa ikut kontribusi (mengurangi emisi/sampah). Akibatnya, banyak orang jadi memilih strategi aman: ikut arus.
Kalau satu orang bawa tumbler, efeknya kecil. Tapi kalau satu kampus atau satu kota bawa tumbler, itu beda cerita. Masalahnya, kamu nggak yakin orang lain akan ikut. Dan karena nggak yakin, kamu jadi mikir, “Nanti dulu.”
Ini bukan soal malas—ini soal rasa “nggak mau jadi satu-satunya yang repot”.
Kamu tahu naik transportasi umum atau carpool lebih ramah iklim. Tapi kalau:
Orang lain tetap bawa kendaraan pribadi, maka pilihan paling masuk akal untuk hari itu sering jatuh ke kendaraan pribadi juga.
Game theory membantu kita lihat: keputusan individu sering ditentukan oleh kondisi kolektif.
Thrifting itu hemat, keren, dan mengurangi jejak fast fashion. Tapi sebagian orang ragu karena:
takut beda sendiri di circle, padahal kalau norma sosial bergeser sedikit saja—thrifting jadi hal yang wajar—banyak orang bakal ikut tanpa beban.
Game theory menunjukkan: kalau kita ingin lebih banyak orang beraksi, kita perlu membuat aksi ramah lingkungan jadi lebih mudah, lebih adil, dan terasa ramai.
Ini beberapa cara yang terbukti kuat secara “logika permainan”:
Diskon bawa tumbler, poin refill, reward carpool, atau benefit untuk komunitas yang menjaga lingkungan. Bukan “dibayar untuk peduli”, tapi mengurangi rasa rugi sepihak.
Di komunitas/organisasi, pembagian peran, SOP, dan target yang jelas bikin orang nggak takut “kerja sendirian”.
Ketika orang melihat teman-temannya melakukan hal yang sama, keputusan ramah lingkungan terasa normal. “Normal” itu kuat banget.
Kalau kamu dan circle-mu melakukan aksi kecil berulang, kepercayaan naik, rasa “sendirian” turun, dan kerja sama jadi stabil.
Kalau kamu mau coba, ini versi yang nggak berat tapi efektif karena melibatkan orang lain:
Karena kadang perubahan iklim bukan cuma soal teknologi atau kebijakan besar.
Kadang, ini soal momen kecil yang bikin orang lain mikir:
“Oh… ternyata banyak juga yang gini. Yaudah, gue ikut.”
Dan di situlah “permainan” mulai berubah.
Nggak. Dipakai untuk semua situasi strategis: organisasi, konflik, kerja sama, sampai aksi iklim.
Karena manfaatnya bareng, tapi biaya/usaha sering terasa ditanggung sendiri. Itu memicu free-rider dan “nunggu orang lain dulu”.
Bikin kerja sama jadi pilihan paling masuk akal: ada insentif, aturan main, transparansi, dan dukungan sosial.
Kontributor:
Meiardhy Mujianto
“Dynamic Harmony between Human and Nature.”
-Relung Indonesia
Jaga lingkungan bersama Relung Indonesia Foundation! Dapatkan informasi terkini seputar kehutanan dan lingkungan di Indonesia.
Relung Indonesia Foundation
Copyright © 2023. All rights reserved.