Email Address
info@relung.or.id
Phone Number
+62 851-7544-2708
Our Location
Sleman, Yogyakarta 55573
info@relung.or.id
+62 851-7544-2708
Sleman, Yogyakarta 55573
admin
April 15, 2026

Kita terlalu lama diminta membaca Calon Arang sebagai dongeng moral yang sederhana: ada perempuan berbahaya, ada wabah, lalu datang tokoh suci yang memulihkan ketertiban. Pembacaan seperti itu nyaman, tetapi justru miskin. Ia menyederhanakan satu mitos besar menjadi semacam drama hitam-putih tentang “kejahatan yang harus dimusnahkan.” Padahal, jika kisah ini dibaca lebih serius, Calon Arang tampak bukan sekadar cerita tentang sihir, melainkan tentang masyarakat yang gagal mengelola ketegangan sosialnya sendiri—lalu menyaksikan ketegangan itu menjelma pageblug, ketakutan, dan keruntuhan ruang hidup bersama.[1]
Dalam banyak penuturan dan kajian, inti teror Calon Arang bukan hanya kematian individual, melainkan penyebaran pageblug yang melumpuhkan wilayah Kahuripan. Wabah di sini penting, karena wabah selalu lebih besar daripada pelaku tunggal. Ia menandakan bahwa kerusakan sudah bergerak dari ranah pribadi ke ranah kolektif; dari luka batin ke tubuh sosial. Karena itu, Calon Arang lebih tepat dibaca sebagai mitos tentang krisis sistemik: ketika dendam, stigma, ketakutan, dan kuasa spiritual bertemu, yang runtuh bukan hanya beberapa orang, tetapi seluruh metabolisme kehidupan bersama.[2]
Di titik ini, pembacaan ekologis menjadi relevan. Bukan karena teks itu berbicara tentang emisi, konservasi hutan, atau pencemaran seperti wacana lingkungan hari ini, melainkan karena kisah ini bekerja dengan logika yang lebih tua dan lebih radikal: manusia, penyakit, ruang, kematian, dan kosmos tidak dipisahkan. Dalam horizon seperti itu, krisis sosial tidak berhenti sebagai urusan antar-manusia; ia merembes menjadi gangguan pada tatanan dunia. Jadi, ketika pageblug meledak dalam kisah Calon Arang, yang sedang dipertontonkan bukan semata hukuman mistis, melainkan putusnya keseimbangan antara masyarakat dengan tatanan hidup yang lebih luas.[3]
Itulah sebabnya kisah ini begitu lekat dengan ruang-ruang liminal: pasetran, kuburan, malam, ritus, perbatasan antara yang hidup dan yang mati. Ruang-ruang itu bukan dekorasi horor. Ia adalah lanskap tempat masyarakat tradisional menyimpan kecemasannya tentang keteraturan dunia. Dalam sumber yang membahas Calonarang dalam kebudayaan Bali, ritual Calon Arang digambarkan berlangsung di pasetran Gondomayit dan dikaitkan langsung dengan permohonan kepada Durga untuk mendatangkan wabah.[4] Ini berarti “alam” dalam kisah itu bukan latar pasif, melainkan medan tempat krisis sosial mengambil bentuk kosmis. Yang rusak bukan hanya relasi politik, tetapi juga cara komunitas menempati ruang sakralnya sendiri.
Kita juga perlu menolak godaan membaca Calon Arang sebagai sekadar kisah “monster perempuan.” Pembacaan itu terlalu malas. Sosok ini lebih tepat dipahami sebagai wadah tempat masyarakat menimbun ketakutannya sendiri: ketakutan pada janda, pada perempuan berpengetahuan, pada kuasa di luar istana, pada energi yang tak bisa dijinakkan oleh hukum resmi. Tetapi mitos besar selalu melakukan sesuatu yang lebih kejam: ia tidak hanya menciptakan kambing hitam, ia juga menyembunyikan kegagalan kolektif di balik figur tunggal. Dalam pengertian ini, Calon Arang terasa sangat modern. Sampai sekarang pun masyarakat gemar menyederhanakan krisis struktural menjadi kesalahan satu tokoh, seolah-olah bila satu sosok dibasmi, dunia akan sehat kembali. Padahal, mitos ini sendiri memberi petunjuk sebaliknya: wabah hanya mungkin begitu dahsyat bila tatanan sosialnya memang sudah rapuh.[5]
Di sinilah figur Rangda menjadi penting. Kajian mutakhir menunjukkan bahwa Rangda tidak memadai jika hanya dipahami sebagai lambang kejahatan. Ia juga dibaca sebagai manifestasi daya feminin yang destruktif sekaligus protektif, bagian dari konsep rwa bhineda, yakni ketegangan dua kekuatan yang saling berlawanan namun justru menopang keseimbangan semesta.[6] Jika ini diterima, maka pesan Calon Arang menjadi jauh lebih mengganggu: dunia tidak pulih dengan cara memusnahkan seluruh sisi gelap kehidupan, sebab sisi gelap itu sendiri adalah bagian dari kosmos. Yang harus dipulihkan bukan keberadaan konflik, melainkan proporsi dan keseimbangannya. Dengan kata lain, masalahnya bukan bahwa dunia memiliki daya destruktif; masalahnya adalah ketika masyarakat gagal mengelolanya, lalu membiarkannya meluap menjadi pageblug.
Pembacaan ini membuat Calon Arang terasa lebih tajam daripada sekadar cerita rakyat. Ia adalah mitos yang menolak ilusi modern bahwa manusia bisa berdiri di luar alam dan mengendalikan semuanya dari pusat. Tidak. Dalam logika kisah ini, manusia hidup di tengah jejaring yang rapat: ritus, tubuh, penyakit, lanskap, kuasa, ketakutan, dan yang ilahi. Maka setiap kerusakan sosial cepat atau lambat akan mempunyai bentuk ekologisnya sendiri. Wabah menjadi bahasa bagi masyarakat lama untuk mengatakan: ada yang salah dalam tata hubungan hidup kita. Itu sebabnya pembacaan atas Barong–Rangda dalam kajian budaya Bali juga menekankan bahwa mitos bekerja sebagai kerangka etis dan ekologis, yang menghubungkan manusia, alam, dan kekuatan adikodrati dalam satu prinsip harmoni yang harus terus dinegosiasikan.[7]
Kalau begitu, apa yang membuat Calon Arang masih relevan sekarang? Justru karena kita hidup di zaman yang terus menghasilkan pageblug dalam bentuk baru. Kita menyebutnya krisis ekologis, krisis kesehatan publik, krisis sosial, krisis kepercayaan, krisis informasi. Tetapi pola dasarnya sama: ketidakseimbangan yang dibiarkan tumbuh, lalu meledak menjadi bencana bersama. Kita menebang terlalu jauh, menumpuk ketimpangan terlalu lama, meremehkan luka sosial terlalu dalam, lalu heran ketika dunia menjadi tidak stabil. Di hadapan situasi seperti itu, Calon Arang bukan kisah kuno yang usang. Ia terasa seperti peringatan: bahwa masyarakat yang gagal merawat keseimbangan pada akhirnya akan hidup dalam lanskap yang dirasuki ketakutannya sendiri.[8]
Dengan demikian, membaca Calon Arang sebagai mitos krisis ekologis dan sosial bukanlah memaksakan isu modern ke dalam teks lama. Yang dilakukan justru sebaliknya: membiarkan mitos lama itu menyingkap sesuatu yang masih kita alami hari ini. Ia mengajarkan bahwa bencana tidak pernah sepenuhnya “alamiah” atau sepenuhnya “sosial”; keduanya saling menembus. Ia mengingatkan bahwa ruang hidup bersama bisa rusak bukan hanya oleh kekuatan luar, tetapi juga oleh akumulasi dendam, stigma, ketimpangan, dan kegagalan moral yang lama diabaikan. Dan yang paling menantang dari semuanya: Calon Arang memaksa kita mengakui bahwa sering kali yang kita sebut “monster” hanyalah nama yang diberikan masyarakat pada krisis yang sebenarnya mereka ciptakan sendiri.[9]
Kontributor:
Meiardhy Mujianto
“Dynamic Harmony between Human and Nature.”
-Relung Indonesia
Jaga lingkungan bersama Relung Indonesia Foundation! Dapatkan informasi terkini seputar kehutanan dan lingkungan di Indonesia.
Relung Indonesia Foundation
Copyright © 2023. All rights reserved.