Email Address

info@relung.or.id

Phone Number

+62 851-7544-2708

Our Location

Sleman, Yogyakarta 55573

Arsip Hidup Kopi Jawa: Menelusuri Plasma Nutfah Tua Jolotigo–Tombo–Petungkriyono

Pojok Pengetahuan

Kopi dan kakao tumbuh di bawah tegakan kapuk di Perkebunan Silowok Sawangan, Pekalongan, 5 Agustus 1927. Foto ini memberikan gambaran mengenai struktur pertanaman campuran dan penggunaan pohon penaung dalam lanskap perkebunan Jawa pada masa kolonial. Foto: Collectie Wereldmuseum (v/h Tropenmuseum), National Museum of World Cultures, CC BY-SA 3.0.

 

Di lereng-lereng pegunungan yang memisahkan Kabupaten Pekalongan dan Batang, kopi tidak hanya tumbuh sebagai tanaman perkebunan. Ia juga menyimpan cerita. Di Petungkriyono, beberapa pohon Arabika tua masih dikenal masyarakat sebagai “Arabika Jawa”. Pohonnya tinggi, dengan pucuk daun berwarna tembaga. Di tempat yang sama kemudian hadir Arabika Caturra, yang menurut penuturan masyarakat Tlogohendro berasal dari kawasan Tombo di Kabupaten Batang.

 

Robusta membawa cerita berbeda. Masyarakat Tlogohendro mengenang bahwa bahan tanam Robusta lama datang dari wilayah yang lebih rendah, antara lain melalui Kayupuring. Di Kayupuring sendiri berkembang ingatan bahwa sumber benih tersebut berasal dari kawasan Kebun Jolotigo. Di sekitar Jolotigo, sampai kini juga masih dapat dijumpai tanaman kopi yang secara lokal dikenali sebagai Robusta, Liberika, dan Excelsa tua. Jika cerita-cerita itu diletakkan berdampingan dengan arsip perkebunan kolonial, literatur pemuliaan kopi, dan sejarah lanskap kawasan, muncul sebuah pertanyaan menarik: Mungkinkah pegunungan Pekalongan–Batang masih menyimpan “arsip hidup” perjalanan panjang kopi Jawa?

 

Jolotigo bermula dari kopi

Nama Jolotigo sekarang lebih lekat dengan perkebunan teh. Tetapi akar sejarah perkebunan ini justru berhubungan erat dengan kopi.

 

Kajian sejarah Fiona van Schendel menunjukkan bahwa Djolotigo—ejaan yang digunakan pada masa kolonial—dibuka sebagai perusahaan perkebunan kopi pada 1875. Perkebunan ini kemudian mengalami berbagai persoalan produksi, manajemen, harga, cuaca, dan terutama penyakit karat daun kopi yang pada akhir abad ke-19 menghantam perkebunan Arabika di Jawa. Pada 1898, Djolotigo berpindah tangan dan kemudian dikembangkan terutama sebagai perkebunan teh dan kina.

 

Namun, perubahan dari perkebunan kopi menuju teh tidak serta-merta berarti bahwa kopi langsung hilang dari Jolotigo.

 

Sebuah petunjuk yang sangat penting muncul dalam Cultuuradresboek voor Nederlandsch-Indië tahun 1915. Direktori perkebunan kolonial tersebut masih mencatat Cultuurmaatschappij Djolotigo dengan komoditas: “Koffie, thee en kina” — kopi, teh, dan kina.

 

Artinya, setidaknya hingga dekade kedua abad ke-20, kopi masih tercatat sebagai bagian dari sistem produksi Djolotigo. Yang belum diketahui adalah kopi jenis apa. Dokumen tahun 1915 tersebut hanya menuliskan koffie, tanpa menyebut Arabika, Liberika, ataupun Robusta. Karena itu, keberadaan kopi di Jolotigo pada periode tersebut belum dapat langsung ditafsirkan sebagai bukti keberadaan Robusta. Dan justru di sinilah misterinya bermula.

 

Sebuah perkebunan yang arsipnya belum selesai dibaca

Jejak sejarah Djolotigo sebenarnya tidak hilang. Nationaal Archief di Den Haag menyimpan arsip Cultuurmaatschappij Djolotigo 1893–1959 dengan kode akses 2.20.37.12.

 

Isi inventarisnya sangat menjanjikan: terdapat laporan produksi 1900–1907, buku surat pengelola, korespondensi antara administrator dengan perusahaan perkebunan lain, laporan tahunan 1908–1957, laporan kas, hingga dokumen mengenai sejarah dan pengusahaan perkebunan. Sayangnya, sebagian besar dokumen tersebut masih berupa arsip fisik dan belum tersedia penuh secara digital.

 

Bahkan penelitian Pujo Semedi dan Gerben Nooteboom tentang sejarah tenaga kerja Jolotigo secara langsung menggunakan Jaarverslagen Cultuurmaatschappij Djolotigo serta arsip Nederlandsche Handel-Maatschappij yang secara eksplisit bernama Koffieonderneming Djolotigo. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa setelah 1898 orientasi perusahaan memang semakin kuat ke teh, dengan ekspansi areal teh pada awal abad ke-20. Dengan demikian, pertanyaan yang belum terjawab bukan lagi apakah Jolotigo pernah memiliki kopi—itu sudah jelas.

 

Pertanyaan yang lebih menarik adalah: Apakah pada saat perkebunan kopi lama sedang ditinggalkan, Jolotigo pernah menerima jenis kopi baru seperti Liberika atau Robusta?

 

Saat Robusta mulai mengubah perkebunan kopi Jawa

Pertanyaan tersebut menjadi relevan karena perubahan Jolotigo terjadi hampir bersamaan dengan sebuah perubahan besar dalam sejarah kopi Jawa.

 

Setelah Arabika terpukul penyakit karat daun, perkebunan-perkebunan di Hindia Belanda mulai mencari bahan tanaman alternatif. Pada awal abad ke-20, Coffea canephora—yang kemudian dikenal luas sebagai Robusta—masuk ke jaringan perkebunan dan penelitian di Jawa. Hindia Belanda bahkan kemudian menjadi salah satu pusat paling awal pemuliaan Robusta dunia.

 

Antara 1907 dan 1930-an, para pemulia di Jawa telah melakukan seleksi massa, pengujian keturunan, eksperimen inbreeding, grafting, dan perbanyakan vegetatif. Dari berbagai pusat penelitian kemudian muncul seri material yang terkenal seperti BP dari Besuki/Kaliwining, SA dari Sumber Asin, serta Bgn dari Bangelan.

 

Namun tidak semua Robusta yang menyebar ke perkebunan rakyat pada masa itu merupakan klon seperti yang kita kenal sekarang. Robusta secara biologis merupakan tanaman yang sangat heterozigot dan terutama menyerbuk silang. Karena itu, ketika diperbanyak melalui biji, setiap generasi menghasilkan kombinasi genetik yang tidak sepenuhnya sama dengan induknya. Hal tersebut penting untuk membaca Robusta lama Petungkriyono.

 

Menurut penuturan masyarakat setempat yang dihimpun dalam penelusuran awal, Robusta lama di kawasan ini memang banyak diperbanyak melalui biji, bukan melalui stek atau sambungan dari satu klon tertentu. Tanamannya cenderung tumbuh tinggi, batang relatif lentur, dengan ukuran biji yang tidak sebesar sejumlah klon Robusta modern. Dalam penilaian cita rasa awal, sebagian menunjukkan karakter dominan chocolatey dan spicy, body sedang, serta bitterness yang relatif rendah.

 

Karena diperbanyak secara generatif selama beberapa generasi, material tersebut lebih tepat sementara dipandang sebagai populasi Robusta lama daripada disebut sebagai satu klon tertentu.

 

Dari Jolotigo menuju Kayupuring

Sejarah lisan masyarakat memberi petunjuk mengenai jalur lain yang tidak selalu terlihat dalam dokumen perusahaan. Di Tlogohendro, masyarakat menyebut Robusta lama sebagai tanaman yang dahulu memperoleh bahan tanam dari daerah yang lebih rendah, termasuk Kayupuring. Sementara itu, penuturan dari kawasan Kayupuring menghubungkan asal benih Robusta tersebut dengan Jolotigo.

 

Jika kelak informasi ini dikonfirmasi melalui wawancara beberapa informan dari generasi dan keluarga yang berbeda, maka akan terbentuk sebuah hipotesis jalur penyebaran bahan tanam: Jolotigo → Kayupuring → kawasan Petungkriyono lainnya.

 

Jalur seperti ini tidak harus tercatat dalam administrasi perkebunan. Buah kopi dapat berpindah bersama pekerja perkebunan, kerabat, pedagang, atau petani. Beberapa genggam buah matang yang kemudian disemai di pekarangan cukup untuk memulai populasi kopi baru. Setelah itu, bijinya kembali dipilih dan ditanam oleh generasi berikutnya. Dalam beberapa dasawarsa, material yang semula berasal dari sebuah perkebunan dapat berubah menjadi populasi kopi lokal yang dibentuk bersama oleh genetik awal, lingkungan, dan seleksi petani.

 

Tombo dan jalur tua menembus hutan

Arabika Petungkriyono tampaknya mempunyai cerita yang berbeda. Masyarakat Tlogohendro sejak lama mengenal jalan tradisional yang menembus kawasan hutan menuju wilayah Kabupaten Batang, termasuk Bandar dan Tombo. Jalur tersebut masih digunakan hingga sekitar awal 2000-an untuk mobilitas masyarakat dan pengangkutan hasil pertanian, termasuk bawang daun. Dalam lanskap seperti ini, batas administratif bukanlah batas pertukaran benih.

 

Menurut sejarah lisan masyarakat Tlogohendro, Arabika varietas Caturra yang kemudian berkembang di wilayah tersebut berasal dari Tombo. Cerita tersebut secara kronologis masuk akal. Caturra adalah mutasi alami dari Bourbon yang pertama kali ditemukan di Brasil sekitar 1915–1918 dan kemudian mulai diseleksi secara sistematis pada akhir 1930-an. Ciri khasnya adalah habitus relatif pendek atau kompak dan pucuk daun hijau.

 

Artinya, apabila identifikasi Caturra Tlogohendro benar, material tersebut jelas merupakan lapisan introduksi yang lebih muda daripada Arabika tua yang sudah lebih dahulu dikenal masyarakat.

 

Sebelum Caturra, ada “Arabika Jawa”

Masyarakat Tlogohendro menyebut bahwa sebelum hadirnya Caturra telah terdapat Arabika lain yang secara lokal sering disebut Arabika Jawa. Pohon-pohon tua tersebut digambarkan tumbuh tinggi dan mempunyai pucuk daun berwarna tembaga.

 

Ciri tersebut membuat Typica menjadi salah satu kandidat yang sangat masuk akal. World Coffee Research mencatat Typica sebagai Arabika bertajuk tinggi, berbiji relatif besar, dan memiliki pucuk daun berwarna bronze atau tembaga. Typica juga mempunyai hubungan sejarah yang sangat kuat dengan Jawa.

 

Namun identifikasinya belum dapat berhenti di sana. Ada pula Arabika yang secara internasional dikenal sebagai varietas Java. Menariknya, Java juga bertajuk tinggi, berbiji besar, dan mempunyai pucuk daun bronze. Kajian genetik modern yang dirangkum World Coffee Research menunjukkan bahwa Java bukan sekadar seleksi Typica seperti yang dahulu diperkirakan, tetapi terkait dengan suatu landrace Ethiopia yang pernah dibawa ke Jawa.

 

Karena kemiripan morfologi tersebut, menyebut Arabika tua Tlogohendro sebagai Typica hanya berdasarkan warna pucuk akan terlalu dini. Untuk sementara, nama yang paling aman justru tetap nama yang digunakan masyarakat: Arabika Jawa tua Tlogohendro. Identitas sebenarnya dapat diuji kemudian melalui morfologi terstandar dan, bila memungkinkan, fingerprinting DNA.

 

Tombo ternyata memang mempunyai sejarah kopi

Tombo bukan hanya muncul dalam sejarah lisan masyarakat. Sebuah catatan statistik kolonial yang terbit dalam Economisch Weekblad pada 1939 mencantumkan “Tombo incl. Wonodadi” di dalam bagian statistik yang secara eksplisit berjudul “Koffie” untuk wilayah Pekalongan. Dokumen tersebut menunjukkan bahwa kopi masih menjadi tanaman yang tercatat dalam sistem perkebunan Tombo–Wonodadi menjelang berakhirnya pemerintahan kolonial Belanda.

 

Arsip Nasional Republik Indonesia juga mempunyai dua berkas khusus mengenai N.V. Landbouw Onderneming Tombo en Wonodadi, masing-masing mencakup periode 1929–1938 dan tahun 1939. Dokumen-dokumen tersebut belum membuktikan bahwa kopi Tombo adalah Caturra—bahkan Caturra yang dikenal masyarakat kemungkinan masuk jauh kemudian.

 

Tetapi bukti tersebut memastikan satu hal penting: Tombo memang merupakan bagian dari lanskap perkebunan kopi historis di kawasan Pekalongan–Batang. Dengan adanya jalur tradisional Tombo–Tlogohendro, sejarah lisan mengenai perpindahan bahan tanaman Arabika menjadi semakin layak ditelusuri.

 

Robusta, Liberika, dan Excelsa: lapisan lain dari sejarah Jolotigo

Hal yang tidak kalah menarik adalah keberadaan tanaman-tanaman tua yang secara lokal dikenali sebagai Liberika dan Excelsa di sekitar Jolotigo, berdampingan dengan Robusta. Informasi ini perlu terlebih dahulu diverifikasi secara botani. Liberika dan Excelsa sering membingungkan dalam identifikasi lapangan, dan kedudukan taksonomi Excelsa sendiri sangat dekat dengan kelompok Liberika. Namun secara historis, keberadaan Liberika di kawasan perkebunan lama Jawa bukan sesuatu yang aneh. Liberika mulai dikenal dan ditanam di Indonesia sejak akhir abad ke-19, pada periode ketika perkebunan kopi sedang mencari alternatif setelah Arabika terganggu penyakit karat daun.

 

Jika pohon-pohon yang sekarang ditemukan di sekitar Jolotigo memang merupakan tanaman tua dan identifikasinya dapat dikonfirmasi, keberadaannya dapat menjadi petunjuk tentang beberapa gelombang introduksi kopi:

 

Arabika lama → Liberika → Robusta → material kopi berikutnya.

Namun usia pohon harus dibedakan dari usia garis genetiknya. Pohon yang sekarang berumur, misalnya, 50 atau 70 tahun belum tentu merupakan pohon yang secara fisik bertahan sejak zaman kolonial. Ia dapat saja merupakan keturunan dari tanaman yang jauh lebih tua. Yang mungkin diwariskan bukan pohonnya, tetapi germplasm-nya.

 

Dari perkebunan negara ke kebun masyarakat

Arsip pemerintah setelah kemerdekaan juga memberi batas kronologis yang penting. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 163 Tahun 1961 memasukkan Jolotigo ke dalam kelompok perkebunan negara dengan komoditas karet dan teh. Kopi tidak disebut sebagai komoditas resminya. Pada dokumen yang sama, pemerintah secara eksplisit menyebut kopi pada perkebunan lain yang memang mengusahakannya.

 

Hal tersebut menunjukkan bahwa pada awal 1960-an, kopi bukan lagi komoditas utama Jolotigo secara administratif. Tetapi tidak tercatat sebagai komoditas perkebunan bukan berarti semua pohonnya hilang dari lanskap.

 

Tanaman dapat bertahan di tepi blok, pekarangan pekerja, lahan masyarakat sekitar, bekas kebun, maupun sebagai pohon induk tempat masyarakat memperoleh buah dan benih. Di sinilah sejarah perusahaan dan sejarah masyarakat dapat mengambil arah berbeda Arsip perusahaan mungkin berhenti mencatat kopi. Tetapi masyarakat terus menanamnya.

 

Ketika jalan menjadi jalur genetik

Kisah Jolotigo–Tombo–Petungkriyono memperlihatkan bahwa sejarah varietas tanaman tidak selalu bergerak melalui lembaga penelitian dan distribusi benih resmi. Kadang-kadang sejarahnya berjalan kaki. Jalan hutan yang menghubungkan Tlogohendro dengan Tombo bukan sekadar jalur membawa bawang daun dan hasil pertanian. Ia berpotensi menjadi koridor pertukaran bahan tanaman.

 

Demikian pula hubungan antara Jolotigo, Kayupuring, dan kawasan Petungkriyono bagian atas. Benih berpindah bersama manusia. Manusia memilih pohon yang buahnya banyak, yang tidak mudah mati, yang rasanya disukai, atau sekadar pohon yang benihnya tersedia. Seleksi seperti ini berlangsung tanpa laboratorium dan tanpa nama varietas resmi.

 

Setelah beberapa generasi, terbentuklah sesuatu yang berbeda dari tanaman sumbernya: populasi lokal yang memiliki sejarahnya sendiri. Itulah sebabnya pencarian Robusta tua Petungkriyono mungkin tidak seharusnya berakhir pada pertanyaan: “Ini klon BP berapa?”

 

Pertanyaan yang lebih penting justru:

 

“Populasi ini berasal dari gene pool apa, bagaimana ia berpindah, dan sifat apa yang berhasil bertahan setelah puluhan tahun tumbuh di Petungkriyono?”

 

Robusta memang memiliki tingkat heterozigositas tinggi dan kecenderungan menyerbuk silang, sehingga populasi yang berulang kali diperbanyak melalui biji dapat menyimpan variasi genetik yang luas. Penelitian modern bahkan menekankan pentingnya konservasi material C. canephora baik di gene bank maupun di kebun petani, karena populasi lokal dapat menyimpan individu-individu yang telah beradaptasi dengan lingkungan tertentu.

 

Pohon kopi sebagai arsip hidup

Dalam ilmu sejarah, arsip biasanya berupa surat, laporan, foto, peta, atau angka produksi. Tetapi dalam lanskap pertanian tua, tanaman pun dapat menjadi arsip. Pohon kopi tidak bisa bercerita dengan kata-kata. Namun bentuk tajuknya, warna pucuk, ukuran daun dan buah, musim berbunga, ketahanan terhadap kekeringan, ukuran biji, hingga profil rasa dapat menyimpan informasi tentang garis keturunannya.

 

Jika informasi biologis itu kemudian dipertemukan dengan: arsip kolonial + sejarah perkebunan + peta lama + sejarah lisan masyarakat + jalur perdagangan tradisional, kita dapat mulai membaca sebuah sejarah yang sebelumnya tersembunyi. Dalam konteks ini, Jolotigo, Tombo, Kayupuring, dan Tlogohendro bukan sekadar empat lokasi kopi. Mereka berpotensi membentuk satu lanskap sejarah germplasm kopi.

 

Yang masih harus dibuktikan

Penelusuran ini masih berada pada tahap awal. Belum ada dasar ilmiah untuk menyatakan bahwa Robusta Petungkriyono adalah klon BP 42, BP 358, SA tertentu, atau klon kolonial lain. Demikian pula, Arabika Jawa tua Tlogohendro belum dapat dipastikan sebagai Typica ataupun varietas Java. Juga belum terbukti bahwa tanaman Liberika atau Excelsa yang sekarang ditemukan di sekitar Jolotigo merupakan keturunan langsung dari pertanaman kolonial. Justru ketidakpastian inilah yang membuat penelitian selanjutnya penting.

 

Setidaknya diperlukan empat langkah.

 

Pertama, inventarisasi pohon kopi tua di Jolotigo, Kayupuring, Tlogohendro, Tombo, dan lokasi-lokasi penghubungnya. Kedua, sejarah lisan yang sistematis, terutama kepada petani senior, mantan pekerja perkebunan, dan keluarga yang dikenal pernah membawa atau memperbanyak benih. Ketiga, karakterisasi morfologi dan sensori per pohon, bukan sekadar per kebun. Dan keempat, untuk sejumlah individu kunci, analisis genetik atau DNA fingerprinting dengan pembanding material referensi.

 

Menyelamatkan sebelum kehilangan

Ada alasan mengapa penelusuran ini tidak seharusnya berhenti sebagai cerita sejarah. Modernisasi kebun kopi sering dilakukan melalui peremajaan: tanaman tua dibongkar dan diganti dengan varietas yang dianggap lebih produktif. Dari perspektif ekonomi, keputusan tersebut dapat sangat rasional. Tetapi jika tidak didahului inventarisasi, kita dapat kehilangan material genetik sebelum mengetahui nilainya.

 

Pohon Robusta yang menghasilkan biji kecil mungkin tidak menarik jika satu-satunya ukuran keberhasilan adalah ukuran biji. Namun pohon yang sama mungkin memiliki ketahanan terhadap lingkungan basah, toleransi tertentu terhadap penyakit, kualitas rasa rendah pahit, atau adaptasi pada agroforestri yang tidak dimiliki material lain.

 

Demikian pula Arabika tua berpucuk tembaga mungkin berproduksi lebih rendah daripada varietas baru, tetapi dapat menyimpan garis genetik yang memiliki nilai sejarah dan pemuliaan. Konservasi tidak berarti semua pohon tua harus dipertahankan selamanya. Yang diperlukan adalah mengenalinya sebelum menggantinya.

 

Sebuah arsip yang belum selesai dibaca

Lebih dari satu abad lalu, laporan perkebunan mencatat kopi sebagai tonase, luas kebun, biaya tenaga kerja, dan harga pasar. Hari ini arsip itu masih tersimpan di Den Haag, Jakarta, perpustakaan-perpustakaan tua, dan berbagai koleksi digital. Tetapi bagian lain dari arsip yang sama mungkin masih tumbuh di lereng-lereng Pekalongan dan Batang. Ia berada dalam Robusta berbiji kecil di kebun masyarakat. Dalam pohon Arabika tinggi berpucuk tembaga. Dalam Caturra yang menurut ingatan petani datang dari balik hutan Tombo. Dalam Liberika dan Excelsa tua di sekitar Jolotigo.

 

Dan dalam ingatan orang-orang yang dahulu berjalan membawa hasil pertanian melintasi pegunungan sambil, mungkin, membawa pulang beberapa buah atau bibit kopi.

 

Mungkin yang tersisa di Jolotigo, Tombo, dan Petungkriyono bukan sekadar pohon-pohon kopi tua. Mungkin mereka adalah arsip hidup perjalanan kopi Jawa—sebuah arsip yang hingga kini belum selesai kita baca.

 

Catatan

Artikel ini merupakan hasil penelusuran awal yang menggabungkan sumber sejarah tertulis dengan informasi awal/sejarah lisan dari masyarakat di kawasan Petungkriyono dan sekitarnya. Identitas varietas serta hubungan genealogis antarpopulasi kopi yang dibahas masih merupakan hipotesis kerja dan memerlukan verifikasi lebih lanjut melalui dokumentasi sejarah, karakterisasi morfologi, dan analisis genetik.

 

Daftar Pustaka dan Sumber

  • Arsip Nasional Republik Indonesia. Daftar Arsip Tekstual Departement van Binnenlandsch Bestuur, 1910–1942. Berkas No. 2836, Erfpachtsaanvraag van de N.V. Landbouw onderneming Tombo en Wonodadi, 1929–1938, dan No. 2839, tahun 1939.
  • Bervoets, J.A.A. 1995. Inventaris van het archief van de Cultuurmaatschappij Djolotigo, 1893–1959. Nationaal Archief, Den Haag. Toegang 2.20.37.12.
  • Cultuuradresboek voor Nederlandsch-Indië. 1915. Entri Cultuurmaatschappij Djolotigo: “Koffie, thee en kina.”
  • Economisch Weekblad voor Nederlandsch-Indië. 2 Juni 1939. “Producties en Jaaroogstschattingen”, statistik Koffie, termasuk entri Tombo incl. Wonodadi untuk wilayah Pekalongan.
  • Ferwerda, F.P. 1948. “Coffee Breeding in Java.” Economic Botany, 2: 258–272. Referensi dan pembahasan sejarah pemuliaan Robusta Jawa dirangkum kembali dalam tinjauan pemuliaan Robusta terkini.
  • Pemerintah Republik Indonesia. 1961. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 163 Tahun 1961 tentang Pendirian Perusahaan Perkebunan Negara Kesatuan Jawa Tengah IV. Entri Jolotigo mencantumkan perkebunan karet dan teh.
  • Semedi, Pujo. 2018. “Vanishing Frontiers: A Javanese Plantation Emplacement, 1870s–2000s.” Humaniora, 30. Universitas Gadjah Mada.
  • Semedi, Pujo & Gerben Nooteboom. 2018. “The Development and Demise of Child Labour in a Javanese Tea Plantation, 1900–2010.” Humaniora, 30(3). Artikel ini menggunakan sejumlah arsip primer Cultuurmaatschappij Djolotigo dan Nederlandsche Handel-Maatschappij.
  • Van Schendel, Fiona. 2000. Djolotigo: Ontginning en exploitatie van een particuliere koffie-onderneming op Java, 1875–1898. Amsterdam: Nederlandsch Economisch-Historisch Archief.
  • World Coffee Research. Typica. Arabica Varieties Catalog. Typica dideskripsikan sebagai varietas bertajuk tinggi dengan pucuk daun bronze.
  • World Coffee Research. Java. Arabica Varieties Catalog. WCR mengklasifikasikan Java sebagai material Ethiopian landrace yang memiliki sejarah introduksi di Jawa dan karakter tanaman tinggi dengan pucuk bronze.
  • World Coffee Research. Caturra. Arabica Varieties Catalog. Caturra merupakan mutasi Bourbon bertajuk kompak yang ditemukan di Brasil sekitar 1915–1918.
  • Sseremba, G., dkk. 2025. “Genetic improvement of robusta coffee (Coffea canephora) in the 20th and 21st centuries: prospects for increasing future breeding effectiveness and impact.” Frontiers in Plant Science. Membahas sejarah awal pemuliaan Robusta di Hindia Belanda, material BP–SA–Bgn, reproduksi silang Robusta, dan konservasi germplasm.
  • BRMP Perkebunan, Kementerian Pertanian RI. 2025. “Liberika dan Excelsa: Jejak Eksotisme Kopi Nusantara.”

 

Kontributor:

Meiardhy Mujianto

“Dynamic Harmony between Human and Nature.”

-Relung Indonesia

Tags :
Pojok Pengetahuan
Share This :

Contact Info

Newsletter

Jaga lingkungan bersama Relung Indonesia Foundation! Dapatkan informasi terkini seputar kehutanan dan lingkungan di Indonesia.

Relung Indonesia Foundation

Copyright © 2023. All rights reserved.