Email Address

info@relung.or.id

Phone Number

+62 851-7544-2708

Our Location

Sleman, Yogyakarta 55573

Penguatan Kapasitas Usaha Kelompok Wanita Tani melalui Pelatihan Perencanaan Bisnis Sederhana di Kabupaten Tanggamus

Intervensi Peningkatan Penghidupan​,Kolektif Pemberdayaan Perempuan

Tanggamus, Lampung — Mei 2025. Yayasan Resiliensi Lingkungan Indonesia (Relung Indonesia), dengan dukungan dari Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) Indonesia dan PT Nestlé Indonesia – Panjang Factory, telah menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Perencanaan Usaha Sederhana (Simple Business Plan Training) bagi Kelompok Wanita Tani (KWT) di dua kecamatan: Pulau Panggung dan Ulu Belu, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung.

 

Pelatihan ini merupakan bagian dari program peningkatan kapasitas yang sebelumnya telah memperkenalkan pendekatan Gender Action Learning System (GALS) dan Regenerative Financial Management (RFM) kepada perwakilan anggota KWT. Kegiatan ini melanjutkan semangat penguatan tersebut dengan memberikan keterampilan praktis untuk menyusun rencana usaha yang terarah melalui kerangka kerja Business Model Canvas (BMC). Pendekatan BMC ini dipilih karena sederhana, mudah dipahami, dan aplikatif bagi pelaku usaha mikro di tingkat desa.

 

Latar Belakang dan Tujuan Pelatihan

Kelompok Wanita Tani (KWT) memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan ekonomi keluarga, terutama melalui kegiatan produksi pangan lokal, pengolahan hasil pertanian, dan usaha kecil berbasis rumah tangga. Namun dalam praktiknya, banyak KWT menghadapi kendala umum seperti rendahnya perencanaan usaha, belum adanya legalitas, hingga lemahnya pencatatan keuangan kelompok.

 

Melalui pendekatan GALS dan RFM, peserta sebelumnya telah dilatih untuk memahami relasi gender dalam pengambilan keputusan ekonomi serta melakukan pencatatan keuangan yang merekam realitas kehidupan sehari-hari secara reflektif. RFM sendiri merupakan pendekatan yang tidak hanya mengajarkan pencatatan kas masuk dan keluar, tetapi juga menempatkan keuangan sebagai instrumen regeneratif yang menghubungkan nilai sosial, lingkungan, dan ekonomi dalam satu sistem yang saling mendukung.

 

Sebagai tindak lanjut, pelatihan ini bertujuan untuk:

  • Memperdalam pemahaman peserta terhadap perencanaan usaha kelompok
  • Meningkatkan kesadaran tentang pentingnya legalitas usaha dan tata kelola kelembagaan
  • Melatih penyusunan Business Model Canvas (BMC) sesuai usaha nyata kelompok
  • Membangun strategi usaha jangka pendek dan menengah yang adaptif dan berbasis potensi lokal

 

Pelaksanaan Kegiatan

  1. Lokasi dan Peserta

Pelatihan diselenggarakan pada:

  • 20 Mei 2025 di Gedung Serba Guna Tekad, Kecamatan Pulau Panggung, dengan 30 peserta dari 11 KWT yang berasal dari wilayah Kecamatan Pulau Panggung dan Kecamatan Air Naningan.
  • 21 Mei 2025 di Balai Pekon Ngarip, Kecamatan Ulu Belu, dengan 22 peserta dari 8 KWT yang berasal dari wilayah Kecamatan Ulu Belu sekitarnya.

 

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh pemangku kepentingan kunci, yang mencerminkan pendekatan kolaboratif multipihak dalam pemberdayaan ekonomi perempuan. Turut hadir perwakilan dari:

  • GIZ Indonesia
  • PT Nestlé Indonesia – Panjang Factory
  • Dinas Perkebunan Kabupaten Tanggamus
  • Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tanggamus
  • Pemerintah kecamatan dan perangkat desa setempat

 

  1. Pembukaan dan Sambutan

Pelatihan dibuka secara resmi dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan pembacaan doa. Dalam sambutannya, Yudistira Soeherman, Direktur Yayasan Relung Indonesia, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari proses konsolidasi keterampilan dari penguatan kesadaran sosial melalui GALS, pemahaman keuangan melalui RFM, hingga penguatan teknis perencanaan usaha melalui BMC.

 

Ia menekankan bahwa perempuan di desa tidak hanya perlu menjadi pelaku produksi, tetapi juga perencana usaha, pengambil keputusan finansial, dan pemilik strategi. Menurutnya, kolaborasi antara pendekatan gender, finansial, dan kewirausahaan adalah kunci untuk menciptakan usaha yang berkelanjutan dan berbasis nilai.

 

Sambutan juga diberikan oleh Herwadi dari perwakilan Kecamatan Pulau Panggung dan Mansyurin, Camat Ulu Belu. Keduanya menyoroti pentingnya dukungan lintas sektor, termasuk sinergi antara KWT, pemerintah desa, dan lembaga ekonomi desa seperti BUMDes, agar hasil-hasil pelatihan dapat diintegrasikan dalam rencana pembangunan ekonomi desa.

 

Materi Pelatihan: Legalitas Usaha dan Pemetaan Rencana Bisnis melalui BMC

  1. Peran Pemerintah Daerah dalam Penguatan UMKM

Materi pertama disampaikan oleh Omi Lestari, S.Kom., MM dari Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tanggamus. Materi ini bertujuan untuk membuka wawasan peserta tentang pentingnya legalitas usaha dan dukungan regulasi dari pemerintah daerah.

 

Pokok bahasan yang disampaikan meliputi:

  • Klasifikasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berdasarkan modal dan omzet
  • Panduan pendaftaran NIB (Nomor Induk Berusaha) melalui sistem OSS secara gratis
  • Proses dan manfaat memperoleh izin PIRT, yang mewajibkan peserta mengikuti Penyuluhan Keamanan Pangan (PKP)
  • Fasilitasi program dari pemerintah daerah: pelatihan, alat produksi, pengemasan, dan sertifikasi halal
  • Prinsip pengemasan sesuai standar pangan, termasuk pelabelan produk
  • Pentingnya perlindungan merek melalui HAKI (Hak Kekayaan Intelektual) untuk menghindari plagiarisme dan memperkuat daya saing

 

Sebagai bentuk komitmen, Diskoperindag akan membuka kuota Penyuluhan Keamanan Pangan (PKP) khusus untuk peserta pelatihan ini yang akan dilaksanakan pada tanggal 27–28 Mei 2025. Langkah ini diharapkan mempercepat legalisasi produk KWT agar dapat memasuki pasar ritel yang lebih luas.

 

  1. Praktik Menyusun Business Model Canvas (BMC)

Sesi kedua difasilitasi oleh Aan Mujibur Rohman, fasilitator pengembangan usaha komunitas. Materi ini mengajak peserta memahami kerangka berpikir usaha secara sistematis melalui Business Model Canvas (BMC), yang terdiri dari 9 elemen utama:

 

  1. Segmentasi konsumen
  2. Proposisi nilai
  3. Saluran distribusi
  4. Hubungan pelanggan
  5. Sumber pendapatan
  6. Sumber daya kunci
  7. Aktivitas kunci
  8. Mitra kunci
  9. Struktur biaya

 

Peserta menyusun BMC berdasarkan usaha yang sudah mereka jalankan. Produk-produk kelompok meliputi:

  • Produk pangan: keripik pisang, kue cincin, keripik singkong, peyek
  • Produk herbal & rempah: teh daun kelor, minuman kunyit instan, simplisia
  • Produk bumbu: bumbu kering dalam botol dan kiloan
  • Produk inovatif: permen pepaya, gula semut bandrek

 

Dalam proses diskusi kelompok, peserta memetakan:

  • Siapa konsumen utama mereka?
  • Apa nilai tambah dari produk?
  • Di mana dan bagaimana produk dipasarkan?
  • Bagaimana pembiayaan dan logistik dikelola?

 

Diskusi ini membantu peserta menyadari bahwa usaha bukan hanya soal produksi, tapi juga soal perencanaan, strategi, dan keberlanjutan.

 

Refleksi Peserta dan Penutup

Pelatihan ditutup dengan kuis interaktif dan sesi refleksi. Melalui evaluasi ini, peserta menunjukkan pemahaman yang baik terhadap materi yang disampaikan, terutama dalam menyebutkan dan mengembangkan elemen-elemen BMC.

 

Peserta juga mencatat pentingnya mengintegrasikan pelatihan sebelumnya (GALS dan RFM) ke dalam pengelolaan usaha. Sebelumnya mereka hanya mengandalkan intuisi dan kebiasaan, kini mereka mulai memiliki alat bantu konseptual untuk berpikir strategis dan mengukur pertumbuhan kelompoknya.

 

Sebagian besar kelompok menyatakan akan segera memanfaatkan materi BMC ini untuk memperkuat usaha dan menjadikannya sebagai rujukan dalam diskusi pengembangan kelompok.

 

Kesimpulan dan Rekomendasi

Pelatihan ini memberikan kontribusi signifikan dalam membentuk fondasi usaha yang lebih kokoh dan strategis bagi Kelompok Wanita Tani di Kabupaten Tanggamus khususnya KWT di tiga Kecamatan yaitu Kecamatan Pulau Panggung, Kecamatan Air Naningan dan Kecamatan Ulu Belu. Dengan penguatan dari sisi legalitas, keuangan regeneratif, hingga perencanaan usaha, KWT semakin siap bertransformasi menjadi unit usaha sosial yang mandiri dan berdaya saing.

 

Relung Indonesia bersama mitra berkomitmen untuk melanjutkan pendampingan melalui:

  • Fasilitasi perizinan usaha (NIB, PIRT, Halal)
  • Tetap melanjutkan monitoring pengelolaan keuangan berbasis RFM serta GALS
  • Akses pasar melalui kanal digital dan mitra komunitas
  • Monitoring implementasi BMC secara periodik
  • Mendorong integrasi usaha KWT dalam ekosistem ekonomi baik di tingkat Desa, Kabupaten hingga Provinsi

 

Kontributor:

Shella

“Dynamic Harmony between Human and Nature.”

-Relung Indonesia

Tags :
Intervensi Peningkatan Penghidupan​,Kolektif Pemberdayaan Perempuan
Share This :

Contact Info

Newsletter

Jaga lingkungan bersama Relung Indonesia Foundation! Dapatkan informasi terkini seputar kehutanan dan lingkungan di Indonesia.

Relung Indonesia Foundation

Copyright © 2023. All rights reserved.