Email Address

info@relung.or.id

Phone Number

+62 851-7544-2708

Our Location

Sleman, Yogyakarta 55573

Agroforestry dan Karbon Karst: Rahasia Tersembunyi di Balik Pegunungan Kapur

Pojok Pengetahuan

Bagi sebagian besar orang, kawasan karst sering kali dicitrakan sebagai lahan yang gersang, tandus, dan marginal. Namun, di balik lanskapnya yang tampak keras, sains menyimpan sebuah rahasia besar: Kawasan karst adalah salah satu “mesin” geokimia terbaik bumi dalam menyerap dan mengunci karbon atmosfer. Tantangan utama di kawasan karst adalah menemukan pola pemanfaatan lahan yang mampu menyelaraskan kebutuhan ekonomi masyarakat dengan kelestarian karakteristik unik karst ini. Jawabannya ternyata ada pada sebuah sistem terpadu: Agroforestry.

 

Karst: “Selimut” Bumi yang Terkunci di Bawah Tanah

Bagaimana mungkin batu kapur bisa menangkap karbon? Di sinilah keajaiban geokimia bekerja. Karst bukan sekadar batu mati; ia adalah ekosistem dinamis yang berinteraksi langsung dengan atmosfer melalui air dan vegetasi.

 

Ketika pohon di atas lahan karst melakukan respirasi, akar-akarnya melepaskan gas karbon dioksida (CO2). Saat hujan turun, air meresap ke dalam tanah, bercampur dengan CO2 dari akar tersebut, dan membentuk asam karbonat ringan. Air asam alami inilah yang melarutkan batuan kapur (CaCO3).

 

Reaksi Kimia Alami Karst:
CaCO3 (batuan) + H2O + CO2 (dari akar) ⇌ Ca2+ + 2HCO3- (bikarbonat terlarut)

 

Melalui reaksi kimia alami tersebut, CO2 yang berada di udara diubah menjadi bikarbonat terlarut yang mengalir jauh ke dalam sistem air tanah, lalu mengendap menjadi stalaktit dan stalagmit di dalam gua bawah tanah. Karbon tersebut terkunci aman di dalam struktur geologis untuk jangka waktu yang sangat lama.

 

Memaksimalkan Potensi Karst Lewat Pendekatan Organik

Kawasan karst memiliki karakteristik solum (lapisan) tanah yang tipis dan sangat peka terhadap perubahan ekosistem. Oleh karena itu, keberadaan tutupan vegetasi permanen menjadi faktor kunci untuk menjaga stabilitas siklus penguncian karbon ini.

 

Dalam pengelolaan lahan kering karst, intervensi yang melibatkan pembongkaran tanah secara masif atau penggunaan input kimia berbahan dasar nitrogen yang berlebihan dapat memengaruhi keseimbangan geokimia batuan. Proses nitrifikasi dari input kimia dapat meningkatkan keasaman tanah secara tidak alami, yang dalam jangka panjang justru berisiko memicu pelepasan kembali gas CO2 dari batuan kapur ke atmosfer. Untuk mempertahankan performa karst sebagai penyerap karbon alami (carbon sink), diperlukan model budidaya yang mampu menjaga struktur tanah sekaligus menyediakan nutrisi tanah secara berkelanjutan.

 

Agroforestry: Solusi Ekonomi Tinggi dan Kelestarian Fungsi Karst

Pola Agroforestry hadir sebagai jalan tengah yang sangat ideal untuk wilayah Gunungkidul. Pola ini memanfaatkan kearifan lokal sistem Tegalan dengan membagi tanaman ke dalam tiga strata vertikal yang saling mendukung:

 

Strata Vegetasi

Jenis Tanaman

Fungsi Ekologis & Ekonomis

Strata Atas
(Overstory)

Jati, Mahoni, Ficus (Beringin/Preh), Kepuh

Akar Ficus dan Kepuh mampu menembus rekahan batu hingga puluhan meter, memompa karbon ke dalam batuan melalui respirasi akar bawah tanah. Menjadi investasi kayu jangka panjang bagi warga.

Strata Tengah
(Midstory)

Melinjo, Mangga, Nangka, Srikaya, Sirsak, Jambu Biji, Sawo, Asam Jawa, Alpukat Lahan Kering

Menyediakan arus kas (cash flow) musiman. Biji melinjo memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi sebagai bahan baku emping yang laku keras di pasar lokal. Buah-buahan memberikan diversifikasi nutrisi dan pendapatan.

Strata Bawah
(Understory)

Jahe, Kunyit, Temulawak, Kencur, Garut, Ganyong, Lengkuas/Laos

Tumbuh subur di bawah naungan di area “ledokan” (cekungan tanah subur di sela batu). Tidak memerlukan pengolahan tanah dalam (aman dari risiko erosi), nilai jual rimpang dan pati sangat kompetitif di pasar.

 

Sinergi Sempurna dengan Sektor Peternakan

Pola agroforestri menjadi lengkap dengan integrasi ternak sapi atau kambing. Di sela-sela batuan, ditanam tanaman pakan berkualitas seperti rumput gajah dan legum (gamal/kaliandra). Kotoran dari ternak ini diolah kembali menjadi pupuk kompos organik. Siklus nutrisi tertutup (zero waste) ini memastikan tanah mendapatkan asupan unsur hara yang aman, menjaga keasaman alami tanah, dan mendukung proses penguncian karbon geokimia di dalam batuan karst berjalan dengan kecepatan maksimal.

 

Menatap Masa Depan Iklim dari Kawasan Karst

Mempertahankan kelestarian Kawasan Karst tidak harus mengorbankan produktivitas ekonomi masyarakat. Melalui penerapan pola agroforestri, terbukti bahwa peningkatan kesejahteraan warga dan perlindungan fungsi ekologis dapat berjalan beriringan.



Masyarakat  bisa memanen empon-empon harian, menjual buah bulanan, memelihara ternak tahunan, dan memiliki investasi kayu jangka panjang. Di saat yang sama, ekosistem di atas permukaan tanah memastikan proses penguncian karbon di dalam perut bumi berjalan optimal—menjadikan kawasan karst sebagai salah satu benteng pertahanan iklim yang berharga.

 

Referensi Ilmiah / Daftar Pustaka

  • Haryono, E., & Day, M. (2004). Landform differentiation within the Gunung Sewu kegelkarst, Java, Indonesia. Journal of Cave and Karst Studies, 66(2), 62-69.
  • Purwanto, R. H., et al. (2022). Analysis of Intensified Agrosilvopastoral Farming in Wiladeg Village, Karangmojo Sub-district, Gunungkidul Regency, Special Region of Yogyakarta, Indonesia. Jurnal Ilmu Kehutanan, 16(2), 184-197.
  • Sulistiyowati, E., Setiadi, S., & Haryono, E. (2023). The Dynamics of Sustainable Livelihoods and Agroforestry in Gunungkidul Karst Area, Yogyakarta, Indonesia. Forest and Society, 7(2), 222–246.

 

Kontributor:

Astarina Eka Dewi

“Dynamic Harmony between Human and Nature.”

-Relung Indonesia

Tags :
Pojok Pengetahuan
Share This :

Contact Info

Newsletter

Jaga lingkungan bersama Relung Indonesia Foundation! Dapatkan informasi terkini seputar kehutanan dan lingkungan di Indonesia.

Relung Indonesia Foundation

Copyright © 2023. All rights reserved.