Email Address

info@relung.or.id

Phone Number

+62 851-7544-2708

Our Location

Sleman, Yogyakarta 55573

Pelajaran dari EWCF: Agroforestry dan Fondasi Ekonomi Pedesaan Yang Inklusif

Kolektif Pemberdayaan Perempuan

Lampung dan kopi adalah 2 hal yang tidak bisa dipisahkan. Wilayah ini sejak lama telah dikenal sebagai penghasil kopi utama di Pulau Sumatera selain Aceh dan sekitarnya. Predikat Lampung sebagai salah satu penghasil kopi dapat dibuktikan di Lapangan, salah satunya jika kita berkunjung  di Kabupaten Tanggamus, salah satu sentra produksi kopi di wilayah Provinsi dengan lambang utama “Mahkota Siger” ini. Saat ini, berdasarkan angka dari Badan Pusat Statistik diperkirakan luas tanaman kopi di Kabupaten Tanggamus mencapai 41.622 Ha dengan produksi kurang lebih 31.986 Ton biji kopi/tahunnya yang tersebar hampir diseluruh kecamatan di Tanggamus menjadi wilayah budidaya kopi. Dengan potensi kopi sebesar ini tak heran jika wilayah ini menjadi sasaran bagi industri pengolahan kopi skala besar (global) untuk mencari sumber bahan baku, salah satunya adalah perusahaan makanan dan minuman yang terbesar yang berasal dari Swiss, Nestle.

 

Sekilas Program Empowerment Women Coffee Farmer (EWCF)

Program ini adalah sebuah inisiatif untuk pemberdayaan komunitas petani kopi khususnya petani wanita di Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung. Melalui pendekatan GALS (Gender Action Learning System) para pendamping dari Yayasan RELUNG Indonesia Bersama dengan sekitar 22 Kelompok Wanita Tani (KWT) bersama-sama mengembangkan ide dan gagasan usaha produktif berbasis potensi sumberdaya alam yang ada di sekitar. Namun ada yang menarik dalam konteks potensi sumberdaya yang akan dikembangkan: “tidak boleh mengembangkan usaha dengan bahan baku kopi!”. Ini menarik untuk diperhatikan, mengapa kok bisa begitu? Memang demikianlah design dari program ini, yaitu pemberdayaan ekonomi para petani kopi untuk dapat menggali dan mengembangkan berbagai potensi ekonomi lainnya selain kopi. Mengapa harus demikian? Ada dua alasan paling tidak, yaitu untuk melakukan diversifikasi sumber pendapatan (income)  petani dan juga untuk mengoptimalkan sumberdaya yang ada berbasis pola agroforestry (wanatani) yang dikembangkan seiring dengan proses budidaya kopi itu sendiri. Program ini dikembangkan atas Kerjasama antara GIZ, Nestle dan Yayasan RELUNG Indonesia sebagai implementor di lapangan. Proyek ini dimulai pada Desember 2024 dan masih berjalan hingga saat ini.

 

Pelajaran Setelah 1 Tahun Berjalan: Agroforestry Dan Ekonomi Yang Inklusif

Melihat perkembangan dari pelaksanaan dan perkembangan dari program ini terbersit istilah yang mungkin agak tepat untuk menggambarkan apa yang secara factual terjadi: inklusifitas ekonomi dengan basis ekosistem pertanian yang umumnya disebut sebagai agroforestry dimana ekosistem ini dijaga eksistensinya untuk memberikan pilihan sumberdaya yang beragam. Namun ada baiknya kita mendasarkan pemikiran kita  tentang ekonomi inklusif tersebut berdasarkan beberapa komponen kuncinya seperti: pendidikan (pengembangan kapasitas), lapangan kerja, literasi finansial, kewirausahaan dan bisnis, pengembangan komunitas, keragaman, keterkaitan global.

 

Pendidikan (Peningkatan Kapasitas)

Program EWCF sejak awal memberikan akses kepada kelompok sasaran terhadap berbagai khasanah pengetahuan, pemahaman serta keterampilan yang berhubungan dengan pengembangan usaha produktif seperti pendekatan GALS, kewirausahaan, perencanaan bisnis (BMC), manajemen usaha, pemasaran digital dll. Proses Pendidikan dan pengembangan kapasitas ini dilaksanakan secara terbuka dan dapat diakses oleh semua anggota KWT.

 

Lapangan Kerja

Dimulai pada paruh tahun, dimana anggota KWT mulai menumbuhkan usaha-usaha produktif maka terbukalah kesempatan bagi anggota KWT untuk dapat memanfaatkan waktu luang  mereka untuk dimanfaatkan dalam kegiatan produktif dengan memproduksi berbagai produk olahan Bersama pengurus dan anggota kelompok. Perlu dicatat disini bahwa pengertian lapangan kerja lebih bersifat non formal yang tidak dapat diukur dengan standar-standar pekerjaan formal seperti menjadi buruh atau karyawan pabrik. Lapangan kerja dan kesempatan kerja yang berkembang (dikembangkan) oleh para KWT disini bersifat sangat fleksibel dan disesuaikan dengan kondisi kelompok/anggota dan juga pasar yang dilayani.

 

Kewirausahaan dan Bisnis

Dari perspektif ini, program EWCF mempunyai peran yang sangat signifikan yang ditandai dengan munculnya berbagai produk yang mampu diserap pasar. Setiap produk pasti telah memunculkan berbagai komponen kewirahaan di masing-masing KWT seperti: merk/brand produk, legalitas produk, SOP produksi, administrasi usaha dan keuangan, strategi marketing, dll.  Saat ini terdapat sekitar 22 merk produk olahan yang merupakan unit usaha dari KWT, 22 produk tersebut telah mempunyai legalitas untuk dipasarkan secara luas. Sedangkan jaringan pemasaran telah berkembang dengan jaringan 50 Kios/toko/kantin sekolah, 1 swalayan modern, dan adanya 14 orang agen pemasaran  produk. Dari sisi omzet usaha hingga akhir tahun pengembangan usaha ini telah mencapai omzet sekitar Rp.126.570.000dengan total laba kasar sebesar Rp. 53.318.421.

 

Pengembangan Komunitas

Komponen ini adalah bagian yang paling terlihat perkembangannya, karena program EWCF mampu mengembangkan komunitas KWT menjadi komunitas yang lebih dinamis dan produktif jika dibandingkan kondisi sebelum adanya program ini. Pertemuan rutin, tabungan kelompok, dan unit bisnis kelompok, merupakan bentuk fisik dari aktifitas yang dikembangkan kepada komunitas. Terdapat hal penting lainnya ialah perubahan pandangan dan peningkatan kapasitas dalam mengelola organisasi hingga menempatkan entitas kelompok sebagai bagian yang dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan ditingkat desa.

 

Literasi Finansial

Program ini memperkenalkan pendekatan baru yang dikembangkan oleh Yayasan Relung Indonesia dalam bidang iterasi keungan. Yayasan Relung mengembangkan metode yang disebut dengan Regeneratif Financial Management (Pengelolaan Keuangan Bertumbuh). Melalui metode ini para petani kopi Perempuan pada fase awal diajak untuk mendiskusikan dan melakukan refleksi  tentang “kualitas pengeluaran/belanja” yang selama ini mereka jalankan. Pada umumnya peserta diskusi akan menyadari bahwa ternyata banyak sekali belanja-belanja yang tidak didasarkan pada kebutuhan (pokok) namun lebih pada memenuhi keinginan semata, dan melalui pemahaman ini maka akan terbangun kesadaran bahwa sebenarnya mereka mempunyai kemampuan untuk berhemat dan menyisihkan sebagain dari pendapatan untuk ditabung. Selanjutnya pendekatan ini akan memfasilitasi petani untuk mengembangkan system/skema menabung secara berkelompok. Dan pada proses selanjutnya melalui  skema tabungan ini mereka sedikit demi sedikit dapat melakukan pengumpulan modal usaha. Singkat cerita pendekatan ini akan meningkatkan kemampuan petani baik secara individu maupun kelompok untuk dapat mengelola sumberdaya keuangan secara lebih baik dan efektif, baik untuk memenuhi kebutuha maupun sebagai modal pengembangan usaha produktif.

 

Keragaman

Jika dilihat dari komponen ini maka dapat diidentifikasi berbagai jenis produk yang dihasilkan, keragaman bahan baku yang dimanfaatkan, berkembangnya  peran dan fungsi sosial maupun ekonomi dari para pengurus dan anggota KWT yang pada ujungnya menambah keragaman sumber-sumber pendapatan masyarakat.

 

Keterkaitan Global

Para petani yang didampingi dalam program ini adalah para petani yang menjadi supplier utama dari kebutuhan bahan baku kopi bagi perusahan global, yaitu Nestle. Koneksi petani dengan global market pasti mempunyai aspek-aspek kerentanan seperti harga yang volatile (tidak menentu). Berkembangnya beragam sumber pendapatan baru bagi para petani melalui program EWCF ini sedikit banyak dapat menjandi penyangga (buffer) bagi ketidak menentuan harga kopi di tingkat global   

 

Penutup

Sistem agroforestry secara praktek di wilayah Kabupaten Tanggamus, Lampung memberikan potensi bahan baku yang beragam bagi para petani kopi perempuan, hal ini tentu berbeda jika masyarakat petani di wilayah ini  mengembangkan sistem monokultur (hanya kopi saja, misalnya). Terbukti bahwa sebagai petani kopi, para petani  di Kabupaten Tanggamus juga membudidayakan berbagai komoditi seperti pisang, singkong, nira aren, berbagai jenis empon-empon, buah alpokat, jeruk lemon, ubi, talas, dll. Berbagai macam produk pertanian ini memberikan peluang bagi pengembangan produk olahan yang juga beraneka ragam. Dengan melakukan teknik pengolahan yang sederhana pada perkembangannya para KWT peserta program EWCF ini mampu memproduksi berbagai jenis barang olahan yang ekonomis dan mampu menjadi sumber pendapatan baru dan beragam selain dari hasil kopi sebagai sumber ekonomi yang utama. Disini dapat dimengerti perlunya mempertahankan atau mengembangkan pola tanam beragam (agroforestry) sebagai titik atau langkah awal terciptanya atau berkembangnya ekonomi yang inklusif.

 

Kontributor:

Akhmad Arief dan Radian Anwar

“Dynamic Harmony between Human and Nature.”

-Relung Indonesia

Tags :
Kolektif Pemberdayaan Perempuan
Share This :

Contact Info

Newsletter

Jaga lingkungan bersama Relung Indonesia Foundation! Dapatkan informasi terkini seputar kehutanan dan lingkungan di Indonesia.

Relung Indonesia Foundation

Copyright © 2023. All rights reserved.